Magister Keuangan Daerah Universitas Cenderawasih

Benarkah pedagang sayur keliling penyebab Pasar Pharaa sepi pembeli?

Benarkah pedagang sayur keliling penyebab Pasar Pharaa sepi pembeli?

Pedagang di Pasar Pharaa Sentani mengatakan keberadaan tukang sayur keliling di seputaran Kota Sentani yang makin marak menjadi penyebab sepinya pembeli di pasar Pharaa.

Robeka Ibo, perempuan asal Sentani, ini mengatakan berbicara soal PAD dari pasar tentu akan kurang kalau semua pedagang tidak dikumpulkan di satu tempat. “Mereka yang pasar mini itu tidak bayar retribusi, yang bayar retribusi itu kami yang di pasar ini,” ucapnya.

Pasar mini adalah sebutan untuk pedagang sayur keliling, menggunakan sepeda motor maupun mobil bak terbuka, berkeliling ke perumahan di seputaran Kota Sentani. Para pedagang sayur keliling ini membawa berbagai macam kebutuhan dapur, sama persis dengan yang dijual di pasar.

Masih kata Robeka Ibo, para pedagang pasar mini itu bukan dari wilayah Sentani namun dari daerah lain di Kota Jayapura.

“Mereka itu bukan penjual yang ada di sini. Mereka itu pedagang yang dari Abe, Hamadi, dan daerah lain. Mereka datang dan jual di sini,” jelas Robeka, saat ditemui Jubi di Sentani, Kamis (24/1/2019).

Mereka yang datang menggunakan motor itu, jelas Robeka, bukan datang dengan jumlah dagangan sedikit tapi banyak.

“Mereka yang pake mobil itu bawa semua sudah lengkap, baik itu pinang dan sirih, itu sudah langsung dilengkapi dan dijual dengan harga Rp 5ribu. Jadi kalau ada orang yang biasa makan pinang, langsung dia tawar, jadi untuk apa lagi susah-susah datang ke pasar. Terus ada sayur, daging, ikan, ayam, sagu, dan semua yang ada di pasar itu ada di dalam mobil yang dorang bawa itu,” ucapnya.

Hal ini, kata Robeka Ibo, membuat pendapatan pedagang di pasar berkurang, sehingga dinas terkait dan Pemerintah Kabupaten Jayapura harus mengambil langkah untuk segera menertibkan ‘penjual berjalan’ ini.

“Kalau pasar ini ramai itu pendapatan dari pasar saja itu bisa ratusan juta, karena retribusi itu beda-beda, mulai dari Rp 1.000, Rp 2ribu, Rp 5ribu, dan Rp 20ribu, itu hanya harian saja, belum lagi yang bulanan,” kata Ibo.

Ester Matuan, seorang penjual sayur di Pasar Pharaa Sentani, mengatakan penjual yang menggunakan kendaraan itu berpengaruh besar.

“Bukan apa tapi mereka itu jual semua yang ada di pasar ini dan langsung jemput pembeli di depan pintu rumah. Kasihan penjual yang di pasar ini, bagaimana kami bayar retribusi tapi pendapatan sedikit, bayar rajin,” katanya.

Keberadaan mereka itu berpengaruh kepada pedagang, terutama mama-mama OAP yang membawa hasil bumi.

“Mama-mama OAP ini yang kasihan, mereka bawa hasil kebun dan berharap dapat banyak tapi karena adanya pasar berjalan itu jadi mereka hanya laku beberapa dan bawa pulang banyak seperti itu,” ucap Matuan.

Hal berbeda disampaikan Fanny Wanimbo, seorang ibu rumah tangga warga Kampung Toladan Sentani.

“Mas sayur tidak bisa disalahkan, mereka juga cari uang untuk menghidupi keluarga. Kita juga terbantu, tidak perlu repot ke pasar, sudah bisa belanja sayur untuk sehari,” katanya.

Fanny mengatakan dia tidak setiap hari belanja ke pasar Pharaa, hanya sekali-sekali, bila ada kebutuhan yang harus dibeli di pasar.

Kalo lagi tidak ada uang, belanja di mas sayur saja, uang Rp 20ribu bisa dapat macam-macam. Kalo ke pasar harus ada ongkos taksi atau ojek. Belum lagi beli kangkung 1 ikat sudah Rp 10ribu. Kalo di mas sayur bisa Rp 5ribu, meski cuma ikat kecil,” katanya.

Fanny, ibu satu anak yang juga berstatus mahasiswa ini, minta dinas terkait segera menata pasar Pharaa supaya lebih bersih dan rapi, supaya pembeli nyaman belanja di pasar tersebut.

Kalo mau pembeli rame, pasar harus ditertibkan. Itu tanggung jawab dinas terkait. Kalo pasar bersih dan rapi, pembeli pasti akan rame. Sampah jangan dibiarkan numpuk berhari-hari, bau. Menurut saya, bukan pedagang keliling yang bikin pasar sepi, tapi kondisi pasar yang kotor dan kumuh yang bikin pembeli malas ke pasar,” kata Fanny menutup perbincangan.

sumber : klik disini