Magister Keuangan Daerah Universitas Cenderawasih

Cerita Lucu dari Pasar Tradisional di Papua

Cerita Lucu dari Pasar Tradisional di Papua

22 November 2019
|
0 Comments
|

Beda wilayah di Indonesia, akan beda pula pengalaman yang traveler rasakan. Apalagi, kalau ke pasar-pasar tradisional di Papua.

Papua begitu menarik untuk dikulik. Tak hanya bentang alam yang sangat indah, tapi kehidupan masyarakatnya. Khususnya kalau mendatangi pasar-pasar tradisional di Papua, pasti akan mendapat banyak cerita.

detikcom pernah beberapa kali mendatangi pasar-pasar tradisional Papua, dari di Jayapura sampai Wamena. Begitu menarik melihat geliat masyarakat dan aktivitasnya.

Hari Suroto, salah seorang peneliti dari Balai Arkeolog Papua menjelaskan bahwa ada banyak cerita-cerita lucu dari pasar-pasar di Papua. Sekadar informasi, pria asal Yogyakarta ini sudah menetap di Papua dari tahun 2008.

Dari aktivitas masyarakat Papua di pasar, membuat Hari memahami bagaimana kepribadian orang-orang Papua. Pertama, Hari menjelaskan soal tawar-menawar.

“Biasanya kalau belanja di pasar tradisional, relatif sangat susah untuk ditawar,” ujarnya.

“Misalkan satu tumpuk mangga isi 4 buah, harganya Rp 20 ribu. Ditawar dengan harga di bawanya tidak bisa,” sambung Hari.

Namun, mama-mama (sebutan untuk wanita dewasa di Papua) punya jiwa sosial yang tinggi. Hari menjelaskan, walau tak bisa ditawar tapi bisa saja mereka menambahkan bonus.

“Misalnya oke saya beli satu tumpuk mangga, tapi mama bisa tambah satu mangga kah yang kecil saja? Pasti, mama akan kasih,” katanya.

Dalam berjualan, hal yang dihargai adalah usaha keras orang-orang Papua. Hari memberikan contoh yang lucu.

“Saya pernah tanya, bapak ini berapa harga kuskus. Dia jawab, yang kecil Rp 300 ribu dan yang besar Rp 250 ribu. Lho kok mahal yang kecil?” terang Hari.

“Bapak itu menjawab, kuskus yang besar saya diam saja saat ditangkap. Kalau kuskus yang kecil, dia lari saat dikejar sampai naik ke atas pohon dan saya hampir jatuh,” paparnya sambil tertawa kecil.

Beda lagi kalau para nelayan di Papua yang berjualan. Ketika dagangannya laris manis, mereka pasti membeli ayam.

“Mereka biasanya tangkap ikan yang bagus-bagus seperti ikan tenggiri, lobster, dan lainnya. Kalau sudah dijual dan dapat uang, mereka pulang beli lalapan ayam. Bosan katanya makan ikan,” terang Hari.

Menurut Hari, traveler yang mengunjung pasar tradisional di Papua akan merasakan pengalaman betapa jiwa sosial masyarakat Papua. Suatu pengalaman yang pasti akan berkesan.

“Kalau dagangan di pasar tidak habis, mereka akan bagi-bagi dagangannya seperti ikan atau hasil kebun, daripada dibawa pulang ke kampung, berat,” ujarnya.

“Pada dasarnya orang Papua itu baik. Apalagi kalau kita sudah dekat dan tidak ada jarak dengan mereka. Itu berarti, kita sudah dianggap sebagai keluarga sendiri,” tutup Hari.

sumber : klik disini