Magister Keuangan Daerah Universitas Cenderawasih

Kualitas Pendidikan di Papua Masih Rendah

Kualitas Pendidikan di Papua Masih Rendah

9 Juli 2019
|
0 Comments
|

Besarnya aliran dana otonomi khusus (otsus) ke Papua belum diikuti dengan peningkatan kualitas pendi­dikan, infrastruktur, pereko­nomian, dan kesehatan. Meski sejak tahun 2001 mendapatkan kewenangan khusus kondisi pendidikan di Papua belum menunjukkan kemajuan signi­fikan. Buruknya kondisi pen­didikan ini berdampak serius terhadap rendahnya kinerja pembangunan daerah.

Hal tersebut mengemuka dalam dialog bertajuk “Mem­bangun Sinergi UGM, Pemda, dan Sektor Swasta dalam Pe­ngembangan SDM dan SDA untuk Kesejahteraan di Papua” yang berlangsung di Swiss Bel­Hotel, Sorong, akhir pekan lalu.

Ketua Gugus Tugas Papua UGM, Bambang Purwoko, me­ngatakan indeks pembangun­an manusia (IPM) Papua dan Papua Barat berada pada posisi terendah dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia. Ke­nyataan ini mengindikasikan rendahnya kondisi pendidik­an dan kesehatan masyarakat. “IPM rendah karena banyak penduduknya miskin, tingkat buta huruf yang tinggi, dan ke­sehatan rendah,” jelasnya.

Bambang menyampaikan kondisi pendidikan di Papua ibarat foto yang diedit. Data statistik pendidikan di Papua terlihat lebih indah dari asli­nya. Demikian halnya dalam prosentase dan jumlah ma­syarakat buta huruf. “Padahal realitasnya tidaklah sebagus yang ditampilkan data statistik tersebut,” katanya.

Menurutnya pembangunan pendidikan di Papua tidak bisa dijalankan dengan cara yang bi­asa dilakukan di daerah-daerah Indonesia lainnya. Namun, harus ada program akselerasi khusus untuk mengejar ketertinggalan pendidikan di Papua.

“Membangun Papua harus dengan cara ‘gila’, kalau dengan cara biasa tidak akan pernah bisa mengejar dengan daerah lainnya,”tandasnya.

Lebih lanjut, Bambang me­ngatakan bahwa sejak tahun 2013 silam UGM telah me­lakukan pengembangan sektor pendidikan di Papua melalui pengiriman guru penggerak daerah terpencil. Diterjunkan sebanyak 190 guru di 8 distrik Kabupaten Puncak, 5 distrik di Kabupaten Intan Jaya, dan 2 distrik di Mappi.

Banyak Persoalan

Sementara itu, Bupati Tam­brauw, Gabriel Asem, me­nyebutkan Papua dan Papua Barat masih dihadapkan ber­bagai persoalan seperti ting­ginya angka kemiskinan, IPM di bawah standar, pendapatan per kapita masyarakat rendah, serta keterbatasan sumber daya manusia.

Gabriel mengungkapkan, di Kabupaten Tambrauw, masih rendah berada di bawah stan­dar minimal. Saat ini IPM Ka­bupaten Tambrauw 50,53 poin.

Selain itu, juga memiliki keterbatasan sumber daya di bidang pemerintahan, pendi­dikan, dan kesehatan. “Harapannya UGM bisa memban­tu menemukan solusi dalam mengatasi persoalan keterba­tasan SDM dan juga persoalan lainnya,”tuturnya.

Rektor UGM, Panut Mulyono, menyampaikan UGM te­rus berupaya mendorong pem­bangunan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Papua. Karenanya UGM selalu mem­buka diri untuk bekerjasama dalam pengembangan Papua baik dalam bidang pendidikan, pengembangan sumber daya manusia dan pendampingan tata kelola pemerintahan serta sektor lainnya. 

sumber : klik disini