Magister Keuangan Daerah Universitas Cenderawasih

Pertumbuhan Ekonomi Papua Terkontraksi 15,72 Persen, Apa Sebabnya?

Pertumbuhan Ekonomi Papua Terkontraksi 15,72 Persen, Apa Sebabnya?

10 Februari 2020
|
0 Comments
|

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Maluku dan Papua terkontraksi hingga 7,4 persen pada kuartal IV 2019. Namun bila dirinci, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara dan Papua Barat masih mengalami pertumbuhan. Sebaliknya, Provinsi Papua mengalami kontraksi pertumbuhan cukup dalam sebesar 15,72 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, penyebab terkontraksinya ekonomi Papua dipengaruhi oleh turunnya produksi PT Freeport Indonesia. Seperti diketahui, Freeport tengah melakukan pengalihan sistem tambang menjadi tambang bawah tanah setelah sebelumnya mengadopsi sistem tambang terbuka. “Penyebab utamanya adalah Freeport penurunan produksi karena ada pengalihan sistem tambang yang ada di sana. Itu yang menyebabkan papua kontraksi cukup dalam 15 persen pada tahun 2019,” ujar Suhariyanto di Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Lebih lanjut, Suhariyanto menuturkan, ekonomi Papua memang telah terkontraksi sejak kuartal III 2018. Sepanjang 2019, perekonomian Papua selalu mengalami kontraksi. “Ekonomi Papua mengalami pertumbuhan negatif, kalau kita lihat triwulan I, II, III, IV tahun 2019 perekonomian Papua selalu mengalami kontraksi,” ungkap Suhariyanto. Sedangkan, perekonomian provinsi lainnya tercatat mengalami pertumbuhan, dengan Pulau Jawa berkontribusi sebesar 59 persen PDB Indonesia. Daerah yang menjadi penopang di Pulau Jawa antara lain, Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa tengah. Wilayah selanjutnya ditempati oleh Sumatera dengan pertumbuhan 4,57 persen (menyumbang 21,32 persen PDB), Kalimantan dengan pertumbuhan 4,99 persen (8,05 persen PDB), Sulawesi 6,65 persen (6,33 persen), serta Bali dan Nusa Tenggara 5,07 persen (3,06 persen). Baca berikutnya

Sumber : klik disini