Magister Keuangan Daerah Universitas Cenderawasih

Rektor IAIN Waspadai Gerakan Radikal Masuk Kampus Papua

Rektor IAIN Waspadai Gerakan Radikal Masuk Kampus Papua

16 Agustus 2019
|
0 Comments
|

 Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Fattahul Muluk Papua DR Idrus Alhamid mewaspadai ajaran kelompok radikal masuk kampus-kampus di Papua. Dia mengingatkan pihak kampus di Papua agar tidak memberikan ruang atau tempat diskusi bagi organisasi yang tidak jelas asal usulnya.

“Kampus tidak boleh dijadikan tempat diskusi oleh kelompok-kelompok dari luar yang membawa ajaran-ajaran radikal yang bertentangan dengan ideologi negara,” katanya di gedung Rektorat IAIN di kawasan Buper Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua, kemarin.

Menurut dia paham radikal yang masuk ke Papua atau menyusup ke kampus-kampus akan merusak tatanan yang telah tersusun baik dan rapi. 

Paparan paham radikal juga disebut bisa mengganggu keharmonisan dan kerukunan umat beragama, sehingga IAIN sangat selektif dalam menggelar kegiatan yang pelaksanaannya dari luar.

“Untuk kegiatan-kegiatan dari luar perkuliahan, kami sangat selektif karena saat ini banyak organisasi pemuda, organisasi masyarakat yang menyusup ke kampus menyebarkan dan menanamkan ajaran-ajaran radikal, yang bisa membenamkan benih-benih kebencian,” katanya.

Idrus secara khusus menyoroti pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia oleh pemerintah beberapa waktu lalu. 

HTI saat ini dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Kata Fattahul, diduga banyak pentolan-pentolan HTI mencoba mengganti nama dengan mengusung visi dan misi yang sama seperti awal, yang intinya ingin merongrong dan mengganti ideologi. 

Strategi itu ditengarai Idrus dilakukan dan diterapkan terutama di kampus-kampus.

“Sejak dini kita harus waspadai, karena saya sudah mendeteksi bahwa ada kelompok muda yang yang berpaham ekstrem mencoba masuk dari kampus, ingin mempengaruhi ideologi yang digunakan, ini berbahaya,” katanya.

Dia pun mengimbau kepada sejumlah kampus yang ada di Papua baik negeri maupun swasta agar lebih ketat dalam menerima calon mahasiswa baru. Sebab, kata dia, bukan tidak mungkin calon mahasiswa itu sudah terpapar lebih dulu.

“Kami juga sangat ketat dalam menerima mahasiswa baru, kami saring dengan baik mana mahasiswa yang benar-benar ingin kuliah dan mana yang ingin sebarkan ideologi sesat. Kita semua tidak boleh kecolongan dan harus waspada dengan paham radikal yang bisa ancam bangsa,” ujar Idrus

sumber : klik disini